Sadranan Merti Dusun Kemiri–Kebondalem, Tradisi Tahunan Pemersatu Warga Lintas Agama di Kaloran

Selasa, 16 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MBEJUJAG.COM, TEMANGGUNG — Tradisi budaya Sadranan Merti Dusun kembali digelar oleh warga Dusun Kemiri dan Kebondalem, Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Tradisi turun-temurun ini dilaksanakan setiap tahun tepat pada Jumat Pon bulan Bakda Ruwah (kalender Jawa) dan menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan warga.

Sekitar 1.000 tenong berisi hidangan dibawa oleh warga dari rumah masing-masing dan disusun rapi sepanjang jalan dusun kurang lebih 1 kilometer. Tak hanya warga setempat, tradisi ini juga selalu mengundang kehadiran anak cucu yang merantau, sehingga suasananya kerap disebut menyerupai lebaran karena penuh temu kangen dan kebersamaan.

Kepala Dusun Kemiri, Romlan, menyampaikan bahwa Sadranan Merti Dusun bukan sekadar tradisi, melainkan wujud rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur.

> “Sadranan ini adalah bentuk syukur kami kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan merawat dusun ini. Yang membuat kami bangga, seluruh warga ikut terlibat tanpa melihat perbedaan,” ujar Romlan.

Keunikan Sadranan Merti Dusun Kemiri–Kebondalem terletak pada harmonisasi keberagaman agama. Meski warga menganut keyakinan yang berbeda-beda, seluruh rangkaian acara dijalankan secara bersama dan penuh toleransi. Doa-doa dipanjatkan menurut agama masing-masing, mencerminkan kuatnya nilai persaudaraan di desa tersebut.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah kubur ke makam para leluhur, dilanjutkan sedekah makan bersama di sepanjang jalan dusun. Warga duduk berhadap-hadapan, menikmati hidangan secara bersama sebagai simbol kesetaraan dan kebersamaan. Pada malam harinya, acara ditutup dengan gelar budaya tradisional yang menampilkan kesenian lokal dan menjadi hiburan rakyat.

Kepala Desa Kemiri, Sugeng Rahadi, menegaskan bahwa tradisi Sadranan memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat desa.

> “Sadranan Merti Dusun ini adalah warisan budaya yang harus dijaga. Di sini kita bisa melihat bagaimana keberagaman agama justru menjadi kekuatan, bukan perbedaan yang memecah. Ini contoh nyata toleransi yang hidup di masyarakat,” kata Sugeng Rahadi.

Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai identitas budaya desa sekaligus penguat nilai gotong royong dan persatuan.

Dengan kekayaan nilai spiritual, sosial, dan budaya, Sadranan Merti Dusun Kemiri–Kebondalem tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga simbol keharmonisan hidup masyarakat desa dalam bingkai tradisi dan toleransi.(Tft)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 21:14

Sadranan Merti Dusun Kemiri–Kebondalem, Tradisi Tahunan Pemersatu Warga Lintas Agama di Kaloran

Berita Terbaru