TEMANGGUNG – Komunitas Krongsi (Nongkrong Sinema) Temanggung kembali menggelar agenda rutinnya melalui Krongsi #8, berupa screening dan diskusi film bersama sineas asal Bansari, Hendri Sulistyo, di Panorama Space, Ngadirejo. Suasana hangat dan penuh antusias terasa sejak pemutaran dua film pendek karya Hendri, yakni “Tumbas” dan “Rumah Duka”, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi santai namun berbobot.
Hendri Sulistyo merupakan putra kelahiran Bansari, Temanggung, yang telah aktif berkecimpung di dunia sinema sejak masa kuliah. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi proses kreatif sekaligus cerita di balik lahirnya kedua film yang sarat dengan isu sosial dan budaya.
Film “Tumbas” mengangkat fenomena yang kini semakin sering ditemui di Jawa, yakni mulai memudarnya penggunaan Bahasa Jawa di kalangan anak-anak. Dengan balutan komedi yang ringan, film ini menyampaikan pesan tentang pentingnya melestarikan bahasa daerah, tata krama (unggah-ungguh), serta kebiasaan bertutur yang santun kepada orang yang lebih tua. Penonton diajak tertawa, namun sekaligus diajak merenungkan nilai-nilai budaya yang perlahan mulai terlupakan.

Sementara itu, “Rumah Duka” menyajikan kisah emosional tentang seorang pemuda bernama Aji yang harus memenuhi syarat dari calon mertuanya untuk memiliki rumah sebelum menikah. Cerita ini menghadirkan pergulatan antara ambisi materi dan kasih sayang orang tua, yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini. Film ini juga diperkuat oleh penampilan aktor asal Temanggung, Agung Cahyo, yang telah membintangi berbagai film layar lebar, film pendek, maupun FTV.
Diskusi yang dipandu oleh Bandost, pegiat Sekolah Literasi Sukatani, berlangsung hidup. Berbagai pertanyaan dan pandangan bermunculan dari peserta yang hadir.
Salah satunya disampaikan oleh Widhiyani Mokhamad, yang menilai kegiatan seperti Krongsi perlu terus didukung karena mampu menjadi ruang bertemunya para pegiat film di Temanggung. Ia juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem perfilman dari sisi bisnis dan pendanaan.

“Film adalah media yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan. Karena itu, dukungan pendanaan perlu mulai dipikirkan, baik melalui program CSR perusahaan maupun pemerintah daerah,” ujarnya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Tafta, yang menilai tantangan terbesar dunia film di Temanggung saat ini adalah belum kuatnya jejaring antar pelaku.
“Temanggung sebenarnya punya banyak potensi. Kita memiliki sutradara, penulis, produser, talent, hingga kru film. Bahkan Temanggung sudah beberapa kali menjadi lokasi syuting film layar lebar. Namun dampaknya terhadap perkembangan perfilman di daerah sendiri masih belum terasa. Yang kita butuhkan adalah bersatu, saling terhubung, dan bersinergi,” ungkapnya.
Krongsi sendiri merupakan komunitas para pegiat sinema di Temanggung yang diketuai oleh Gideon Hermantoko, seorang documentary filmmaker yang kini kembali berkarya di kampung halamannya. Komunitas ini secara rutin mengadakan nonton bareng dan diskusi film setiap bulan sebagai ruang belajar, berbagi pengalaman, sekaligus mempertemukan para pelaku perfilman di Temanggung.
Menurut Gideon, Temanggung memiliki modal yang sangat besar untuk berkembang menjadi kota yang ramah bagi industri kreatif, khususnya perfilman. Selain memiliki kekayaan alam yang menarik sebagai lokasi syuting, Temanggung juga memiliki sumber daya manusia yang tidak sedikit di bidang sinema.
Melalui kegiatan seperti Krongsi, diharapkan para sineas lokal tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan mampu membangun jejaring yang kuat, saling berkolaborasi, dan menjadikan Temanggung sebagai kota yang semakin bergeliat dalam dunia perfilman. (Tft)






