Saat Jogja Tak Lagi Punya Ruang Bermain, Seniman Digie Sigit Mengkritik Lewat Karya Unik

Jumat, 3 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mbejujag – Temanggung – Di tengah riuh lalu lintas Jalan Sultan Agung Yogyakarta, tepat di kawasan yang dikenal masyarakat sebagai perempatan eks Bioskop Permata, sebuah baliho raksasa berdiri berbeda dari biasanya. Tidak menjual produk. Tidak menawarkan diskon. Tidak memajang wajah politisi yang sedang berburu simpati.

Yang terlihat justru sosok seorang anak kecil dalam balutan warna monokrom. Berdiri tanpa alas kaki. Tatapannya kosong sekaligus penuh tanya. Di tangannya tergenggam sebuah bola berwarna kuning.
Di bawah gambar itu tertulis kalimat sederhana namun menghantam perasaan:

“aku cuma mau maen..”
“(kenapa kamu bully aku?)”

Karya berukuran 8 x 4 meter itu adalah bagian dari pameran tunggal senirupa bertajuk Sayangi Teman karya perupa Yogyakarta, Digie Sigit. Menggunakan teknik stencil art, Digie tidak hanya memamerkan karya visual, tetapi juga mengangkat kegelisahan sosial yang selama ini perlahan dianggap biasa.

Tentang anak-anak.
Tentang ruang bermain yang semakin hilang.
Tentang bullying yang ternyata tidak hanya terjadi di sekolah.
Dan tentang bagaimana orang dewasa diam-diam telah mewariskan kekerasan sosial kepada generasi berikutnya.

Bagi banyak orang yang tumbuh di era 80-an atau 90-an, bermain adalah bagian alami dari masa kecil. Lapangan kecil di kampung. Jalanan sore hari. Tanah kosong. Sungai. Gang sempit yang dipenuhi suara tawa anak-anak.
Namun perlahan ruang-ruang itu menghilang.

Lahan kosong berubah menjadi ruko. Lapangan menjadi parkiran. Gang menjadi akses bisnis. Kota tumbuh, tetapi bersamaan dengan itu ruang sosial anak-anak semakin menyempit.
Anak-anak hari ini tumbuh di tengah dunia yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tekanan. Mereka lebih akrab dengan layar dibanding tanah lapang. Lebih sering berhadapan dengan tuntutan dibanding kesempatan bermain. Kegelisahan inilah yang menjadi salah satu dasar lahirnya karya Digie Sigit.

Baginya, hilangnya ruang bermain bukan sekadar hilangnya tempat fisik, tetapi juga hilangnya ruang tumbuh secara emosional dan psikologis.
Dalam banyak pembicaraan publik, bullying sering dipahami sebatas ejekan di sekolah atau kekerasan antaranak. Padahal menurut Digie Sigit, bullying jauh lebih luas dan lebih mengerikan daripada itu.

Bullying hidup di hampir setiap lini kehidupan.
Anak-anak hanyalah peniru paling jujur dari dunia orang dewasa.
Mereka melihat bagaimana orang dewasa saling merendahkan di media sosial. Melihat kekuasaan menekan yang lemah. Melihat hinaan menjadi hiburan. Melihat ketidakadilan dianggap hal biasa. Melihat empati kalah oleh kepentingan. Lalu semua itu dipraktikkan ulang dalam bentuk yang lebih kecil di lingkungan mereka.

Ketika seorang anak kecil harus menggendong adiknya di lampu merah untuk bertahan hidup, sementara anak-anak lain menikmati masa kecilnya, di situ ada ketimpangan sosial yang melukai.

Ketika sebuah tempat penitipan anak yang mestinya mewakili sang ibu untuk menjaga dan menyayangi sementara waktu justru menjadi tempat penyiksaan di awal perjalanan hidup seorang orok.

Ketika seorang anak SD memilih bunuh diri karena tidak mampu membeli buku seharga sepuluh ribu rupiah, itu bukan sekadar tragedi pribadi. Itu adalah bentuk tekanan sosial yang sangat brutal.

Yang membuat pameran Sayangi Teman terasa sangat unik adalah pilihan medianya.
Digie Sigit tidak memajang karya ini di galeri tertutup. Ia justru memilih papan reklame di tengah kota. Sebuah ruang yang selama ini identik dengan perang iklan, promosi bisnis, propaganda politik, hingga pencitraan kekuasaan.

Di tengah kepadatan visual kota yang saling berebut perhatian, karya itu hadir seperti suara lain yang mencoba menghentikan orang sejenak untuk berpikir.
Tentang siapa yang sedang tumbuh di kota ini.
Tentang anak-anak yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.
Tentang masyarakat yang terlalu sibuk menjual sesuatu sampai lupa menjaga rasa kemanusiaan.

Pameran Sayangi Teman bukan sekadar peristiwa seni rupa.
Ia adalah alarm sosial.
Lewat sosok anak kecil yang memegang bola kuning di atas baliho raksasa, Digie Sigit seakan sedang berbicara kepada seluruh kota:
Bahwa mungkin anak-anak sebenarnya tidak meminta terlalu banyak.
Mereka hanya ingin bermain.
Mereka hanya ingin diterima.
Mereka hanya ingin tumbuh tanpa rasa takut.

Digie Sigit mendorong sesama seniman untuk turut merebut ruang publik dan media publik sebagai tempat menyuarakan kebaikan.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

HUT ke-2 Satupena Temanggung, Luncurkan “Ki Panjang Emas”
FESTIVAL LITERASI TEMANGGUNG 2026: MERAJUT TRADISI DALAM RUANG LITERASI, HADIRKAN RAGAM KEGIATAN EDUKATIF DAN KREATIF
Dinpusip Temanggung Apresiasi Donasi Karya MGMP Bahasa Indonesia MTs
SMK Negeri Jumo Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi
MGMP Bahasa Indonesia MTs Temanggung Nyalakan “Kejora” Literasi Lewat 41 Cerpen
Golkar Temanggung Perkuat Regenerasi, 40 Persen Pengurus Diisi Anak Muda
Literasi Hukum Bahas Maraknya KDRT hingga Sengketa Lahan, Warga Temanggung Bisa Konsultasi Gratis
Temanggung Digitalpreneur Community Resmi Diluncurkan, Wadah Tumbuh Bareng Pengusaha Digital

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:14

HUT ke-2 Satupena Temanggung, Luncurkan “Ki Panjang Emas”

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:50

FESTIVAL LITERASI TEMANGGUNG 2026: MERAJUT TRADISI DALAM RUANG LITERASI, HADIRKAN RAGAM KEGIATAN EDUKATIF DAN KREATIF

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:33

Dinpusip Temanggung Apresiasi Donasi Karya MGMP Bahasa Indonesia MTs

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:01

SMK Negeri Jumo Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:24

MGMP Bahasa Indonesia MTs Temanggung Nyalakan “Kejora” Literasi Lewat 41 Cerpen

Berita Terbaru

Kabar Temanggung

HUT ke-2 Satupena Temanggung, Luncurkan “Ki Panjang Emas”

Senin, 19 Okt 2026 - 18:14

Kabar Temanggung

SMK Negeri Jumo Selenggarakan Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi

Selasa, 6 Okt 2026 - 12:01