Mbejujag.com | Magelang – Tawa riang puluhan anak memecah sejuknya lereng Gunung Giyanti, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Rabu-Kamis (1–2/7/2026). Selama dua hari, mereka memilih meninggalkan gadget dan menikmati liburan sekolah dengan cara yang berbeda melalui Fun Camping Kids & Hiking #6 yang digelar Kampung Dongeng Temanggung.
Sebanyak 47 anak usia 7–12 tahun mengikuti kegiatan yang didampingi 8 panitia dan 12 relawan. Mengusung konsep pendidikan berbasis alam (outdoor learning), kegiatan ini dirancang untuk membangun kemandirian, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mengajak anak lebih dekat dengan alam dan Sang Pencipta.
Ketua Panitia, Hari Mawardi, mengatakan bahwa liburan sekolah merupakan momentum terbaik untuk memberikan pengalaman belajar yang tidak bisa diperoleh anak di dalam kelas.
“Kami ingin anak-anak memanfaatkan liburan dengan kegiatan yang bermanfaat. Di sini mereka belajar hidup mandiri, tidur di tenda, bekerja sama, menghargai sesama makhluk hidup, serta menyadari bahwa alam adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, setiap peserta tinggal di tenda yang telah dilengkapi perlengkapan camping. Mereka diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif dan kreatif, mulai dari membuat karya berbahan alam, kreasi daun, outbound, memanah, cooking time, salat berjamaah, mengaji, hingga mendengarkan dongeng Kak Lukman Prabu yang menjadi ciri khas Kampung Dongeng.
Suasana semakin meriah saat malam hari. Setiap kelompok menampilkan pentas seni yang dipersiapkan bersama pendamping. Anak-anak tampil percaya diri menyanyi, bercerita, hingga menunjukkan kreativitas mereka di hadapan teman-temannya.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya senang bermain, tetapi juga belajar berani tampil, bekerja sama dalam kelompok, dan saling menghargai,” kata Hari.
Memasuki hari kedua, seluruh peserta bangun sebelum matahari terbit untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Setelah itu mereka memulai perjalanan menuju puncak Gunung Giyanti.
Dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, Gunung Giyanti dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian ramah pemula. Jalur pendakian dari Basecamp Malanggaten relatif landai sehingga dapat ditempuh sekitar 30–60 menit.
Di sepanjang perjalanan, para relawan mengajak peserta mengenal berbagai tanaman dan menjaga kebersihan jalur pendakian. Sesampainya di kawasan puncak, anak-anak menikmati panorama pegunungan dengan latar Gunung Sumbing, Merbabu, dan Merapi yang tampak gagah berdiri di kejauhan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan aksi menanam pohon dan operasi semut pungut sampah sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Menurut Hari Mawardi, pengalaman seperti inilah yang diharapkan dapat membekas dalam ingatan anak-anak.

“Harapan kami kegiatan ini bisa terus berlanjut setiap tahun. Anak-anak pulang membawa pengalaman baru, mendapatkan teman baru, menjadi lebih mandiri, sekaligus tumbuh rasa cinta terhadap alam,” ungkapnya.
Kesan mendalam juga dirasakan para orang tua peserta. Salah satunya mengaku bersyukur karena putranya pulang dengan kondisi sehat sekaligus membawa banyak cerita baru.
“Alhamdulillah Zian sudah sampai rumah dengan selamat dan sehat. Terima kasih untuk tim Kampung Dongeng yang telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang luar biasa untuk Zian dan teman-temannya,” ujar salah satu orang tua peserta.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi salah satu cara efektif mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget selama liburan.
“Untuk kesekian kalinya ini menjadi event detoks gadget yang luar biasa. Ide-ide kreatif yang disiapkan membuat anak-anak riang dan memiliki pengalaman yang sangat berkesan. Semoga Tim Kampung Dongeng Temanggung selalu sehat dan sukses,” tuturnya.
Lebih dari sekadar berkemah, Fun Camping Kids & Hiking #6 menjadi ruang belajar yang mengajarkan keberanian, kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, hingga rasa syukur atas keindahan alam. Di tengah maraknya aktivitas digital yang menyita perhatian anak-anak, kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa pengalaman terbaik justru lahir ketika mereka berinteraksi langsung dengan alam dan sesama.










